6 Mar
TEMPO.CO, Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) baru saja mengumumkan kesepakatan pasokan gas selama 10 tahun dari Ladang Gas Mako yang terletak di Wilayah Kerja Duyung, Kepulauan Natuna. Kesepakatan ini mencakup pasokan gas sebesar 111 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dan ditandai dengan keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) resmi proyek tersebut.
Ladang Gas Mako, yang dioperasikan oleh West Natuna Exploration Limited (WNEL), memiliki kedalaman laut sekitar 80 meter dan terletak di lepas pantai Natuna yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau. Pengumuman FID ini berlangsung di kantor Satuan Tugas Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dihadiri oleh pejabat pemerintah dan mitra proyek.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, menilai persetujuan FID ini sebagai pencapaian penting dalam upaya meningkatkan produksi gas nasional. “Persetujuan FID ini menggarisbawahi kesiapan proyek untuk memasuki fase konstruksi dan pelaksanaan penuh guna meningkatkan lifting gas nasional,” katanya dalam pernyataan resmi pada Jumat, 6 Maret 2026.
Proyek ini telah melalui proses pengembangan yang panjang, dimulai dengan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) pada 2007, penemuan cadangan gas pada 2017, persetujuan Rencana Pengembangan (Plan of Development/POD) pada 2019, revisi POD pada 2022, dan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (Gas Sales and Purchase Agreement/GSPA) pada 2025. Diperkirakan produksi dari ladang ini akan dimulai pada 2027.
Rakhmad Dewanto, Direktur Utama PLN EPI, menyambut baik pencapaian FID tersebut, menekankan pentingnya pasokan gas sesuai dengan kesepakatan GSPA yang ditandatangani dengan WNEL pada 11 Juli 2025. Proyek ini juga sejalan dengan mandat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk PLN EPI dalam membangun dan mengoperasikan jalur pipa gas WNTS-Pemping.
“Dengan pencapaian FID ini, jadwal pasokan gas dalam GSPA dapat terpenuhi untuk menjamin pasokan gas bagi pembangkit listrik, terutama di wilayah Batam dan Sumatera bagian tengah,” ungkap Rakhmad.
Permintaan listrik di wilayah ini diperkirakan meningkat sebesar 12–15 persen setiap tahunnya, yang sebagian besar dipenuhi oleh pembangkit listrik berbahan bakar gas, sementara pasokan gas dari daratan Sumatera mengalami penurunan. Hal ini menjadikan produksi dari Natuna semakin penting bagi ketahanan energi nasional.
PLN EPI saat ini sedang membangun pipa WNTS-Pemping untuk mendistribusikan gas dari Natuna ke Batam. Infrastruktur ini diharapkan dapat menjadi jalur distribusi utama bagi sistem kelistrikan di kawasan tersebut. Erma Melina Sarahwati, Direktur Gas dan Bahan Bakar Minyak PLN EPI, mengonfirmasi bahwa pembangunan pipa berlangsung sesuai jadwal. Peletakan batu pertama dilakukan pada 10 Februari 2026, dengan target operasi mulai pada Juli 2026.
“Pipa ini akan menjadi penghubung penting untuk mendistribusikan gas dari wilayah Natuna ke sistem kelistrikan Batam,” jelas Erma.
Dia menambahkan bahwa pengembangan infrastruktur gas ini juga mendukung strategi transisi energi nasional Indonesia, yang mempromosikan energi yang lebih bersih, efisien, dan bersumber dari dalam negeri. “Pengembangan infrastruktur gas ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tambahnya.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.