10 Mar
SEKRETARIS Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia, Trismawan Sanjaya, memperkirakan bahwa biaya logistik global dapat melonjak hingga tiga kali lipat akibat penutupan Selat Hormuz sebagai dampak dari perang antara Iran dan Israel. Dalam wawancara pada Senin, 9 Maret 2026, Trismawan menjelaskan bahwa beberapa kapal barang memilih untuk membatalkan perjalanan mereka melalui jalur perdagangan tersebut. Hal ini disebabkan oleh risiko keamanan yang meningkat karena wilayah operasi perang antara Amerika-Israel dan Iran mencakup sejumlah area di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz.
Trismawan menambahkan bahwa selama penundaan pelayaran ini, perusahaan kapal akan menghadapi perubahan dalam tiga komponen biaya logistik. Pertama adalah fuel adjustment factor (FAF), yang berkaitan dengan fluktuasi harga bahan bakar. Kedua adalah premi asuransi perang, dan yang terakhir adalah biaya kongesti akibat kapal yang terpaksa menunggu dan menimbulkan penumpukan di pelabuhan.
Dalam kondisi normal, biaya FAF untuk satu kontainer biasanya berkisar di angka US$ 100. Namun, dengan harga minyak dunia yang naik menjadi US$ 100 dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh konflik ini, Trismawan memperkirakan bahwa biaya FAF bisa melonjak hingga US$ 300 per kontainer. Hal ini tentu akan berimbas pada total biaya logistik global.
Selain itu, kapal juga akan terpaksa mengubah rute pengiriman untuk menghindari risiko, misalnya melalui Afrika Selatan. Rute ini, meski lebih aman, akan memakan waktu lebih lama dibandingkan jika melewati Selat Hormuz. Trismawan memperkirakan bahwa pelayaran bisa memakan waktu hingga 45 hari, dibandingkan dengan dua minggu jika menggunakan Selat Hormuz.
Peningkatan durasi perjalanan akan berdampak pada konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi. Selain itu, ada pula biaya kongesti sebesar US$ 100 per kontainer akibat terjadinya kemacetan di pelabuhan, terutama di Afrika Selatan yang tidak memiliki kapasitas yang sama dengan Selat Hormuz.
Trismawan menegaskan bahwa perang antara Iran dan Israel tidak hanya berdampak pada kenaikan biaya logistik global, tetapi juga dapat memicu pembengkakan biaya logistik domestik di Indonesia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar para importir mempertimbangkan untuk membeli lebih banyak barang guna memastikan ketersediaan pasokan, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada pengadaan dari luar negeri.
Dengan situasi yang terus berkembang, dampak dari konflik Iran-Israel terhadap biaya logistik global semakin nyata. Para pelaku bisnis di Indonesia harus bersiap menghadapi perubahan ini dan melakukan langkah strategis untuk mengamankan pasokan serta mengelola biaya yang meningkat. Perencanaan yang matang akan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif dari krisis ini.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.