12 Apr
Pemerintah Iran mengakui kebuntuan dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS) sebagai hal yang wajar. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa suasana ketidakpercayaan menjadi faktor utama yang menghambat kemajuan negosiasi tersebut.
Dalam laporan yang dilansir Anadolu, Baqaei mengungkapkan bahwa pertemuan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad, Pakistan, berlangsung dalam atmosfer yang dipenuhi kecurigaan dan ketidakpastian. “Perundingan ini dilangsungkan dalam kondisi yang dipengaruhi oleh ketidakpercayaan, keraguan, dan kecurigaan, yang muncul setelah konflik terbaru yang berlangsung selama 40 hari terakhir,” ujar Baqaei pada Ahad, 12 April 2026.
Baqaei menilai bahwa kompleksitas isu yang dibahas dalam perundingan juga menjadi penghalang bagi tercapainya kesepakatan. Topik yang dibicarakan mencakup berbagai hal, mulai dari Selat Hormuz hingga dinamika kawasan yang lebih luas. Dalam pernyataan terpisah di platform X, ia merincikan bahwa isu yang diangkat mencakup masalah nuklir, kompensasi perang, pencabutan sanksi, serta penghentian total konflik yang melibatkan Iran dan kawasan sekitarnya.
“Dalam 24 jam terakhir, kami mendiskusikan berbagai dimensi dari isu utama negosiasi, termasuk Selat Hormuz, isu nuklir, reparasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian penuh perang terhadap Iran dan di kawasan,” tambahnya.
Meski ada beberapa kemajuan dalam diskusi, perbedaan pada dua atau tiga poin kunci masih menghalangi tercapainya kesepakatan. Baqaei pun tidak dapat memastikan apakah perundingan lanjutan akan diadakan di masa mendatang.
Dia menekankan bahwa keberhasilan proses diplomatik ini sangat bergantung pada itikad baik dari pihak lawan. “Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, yang harus menghindari tuntutan berlebihan dan menerima hak serta kepentingan sah Iran,” ungkap Baqaei.
Di sisi lain, Baqaei juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Pakistan yang berperan sebagai tuan rumah dalam perundingan ini. Delegasi Iran dilaporkan telah meninggalkan Islamabad setelah pertemuan berakhir tanpa kesepakatan yang dicapai.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa Iran menolak syarat-syarat yang diajukan oleh Washington setelah perundingan selama 21 jam. “Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir ini lebih merupakan kabar buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat,” ujar Vance kepada wartawan sebelum meninggalkan Islamabad.
Ketidakpastian dalam negosiasi antara Iran dan AS ini dapat berdampak pada situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia perlu memantau perkembangan ini dengan seksama, mengingat hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara di kawasan yang mungkin terpengaruh oleh ketegangan antara Iran dan AS.
Mandeknya negosiasi antara Iran dan AS mencerminkan kompleksitas hubungan internasional yang dipenuhi dengan ketidakpercayaan. Dengan berbagai isu yang masih menjadi perdebatan, penting bagi kedua belah pihak untuk menemukan titik temu demi stabilitas kawasan. Indonesia sebagai negara yang terlibat dalam dinamika ini perlu bersikap proaktif dalam merespons perkembangan yang terjadi.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.