6 Mar
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan alasan di balik sikap Presiden Prabowo Subianto yang tidak banyak berkomentar mengenai situasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), serta Israel. Kalla menilai, Prabowo terikat pada kesepakatan dagang dengan AS yang membuatnya tidak leluasa dalam mengeluarkan pendapat tentang isu tersebut.
Konflik antara Iran dan AS telah memanas, terutama setelah serangan yang dilakukan AS terhadap negara teluk tersebut. Dalam konteks ini, pertanyaan muncul mengenai posisi Indonesia yang dipimpin oleh Prabowo Subianto, terutama terkait keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh mantan Presiden AS, Donald Trump.
Kalla menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan IDN Times setelah pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta, di mana Prabowo juga menghadiri acara bersama mantan presiden dan wakil presiden lainnya. Dalam wawancara tersebut, Kalla menegaskan bahwa Prabowo tidak dapat berkomentar banyak mengenai Iran karena keterikatan Indonesia pada perjanjian dagang dengan AS.
“Karena Indonesia, Presiden, sudah terikat dengan perjanjian dengan Amerika Serikat, yang banyak pihak termasuk saya itu menilai terlalu berpihak,” kata Kalla. Ia menyebutkan bahwa perjanjian tersebut mengikat Indonesia untuk mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh AS, yang mengakibatkan Prabowo harus berhati-hati dalam bersuara mengenai konflik ini.
Kalla menjelaskan bahwa perjanjian dagang tersebut menciptakan batasan bagi Indonesia. “Perjanjian itu mengikat, sehingga beliau tidak banyak memberikan komentar tentang Iran,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perjanjian ini memaksa Indonesia untuk tidak bertentangan dengan kebijakan AS, bahkan ketika AS terlibat dalam konflik dengan negara lain.
Lebih lanjut, Kalla juga memberikan saran kepada Prabowo agar Indonesia tidak terlalu khawatir dengan perjanjian tarif yang ditetapkan oleh AS. “Tarif yang ditetapkan AS sebenarnya tidak terlalu penting bagi Indonesia, karena akhirnya yang membayar adalah importir dan konsumen di AS, bukan kita,” jelasnya.
Kalla juga menyoroti adanya ketentuan nontarif dalam perjanjian dagang yang dapat mengecilkan independensi Indonesia. “Kita harus ikut politik Amerika. Ini yang terjadi. Karena Amerika menyerang Iran, Indonesia tidak boleh mengecam Amerika,” ungkap Kalla. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia terpengaruh oleh keputusan dan tindakan yang diambil oleh AS.
Sikap Prabowo yang cenderung diam mengenai konflik Iran dan AS mencerminkan kompleksitas hubungan diplomatik Indonesia dengan AS. Dengan keterikatan pada perjanjian dagang, Indonesia harus berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di pentas internasional. Kalla, sebagai mantan pejabat tinggi, menunjukkan keprihatinan akan terbatasnya ruang gerak politik Indonesia dalam menghadapi isu-isu global yang penting.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.