Krisis pengelolaan sampah di Indonesia dan dampaknya

Krisis Pengelolaan Sampah: Indonesia Masih Terjebak Solusi Instan

TEMPO.CO, Jakarta – Selama hampir dua dekade, David Sutasurya secara rutin mengunjungi berbagai kementerian untuk memperingatkan para pejabat mengenai buruknya pengelolaan sampah di Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan, lebih dari 66 persen sampah di negara ini masih berakhir di tempat pembuangan terbuka, sementara sisanya dibuang ke lingkungan secara tidak terkontrol.

Jika praktik ini terus berlanjut, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan volume sampah akan melonjak menjadi 82 juta ton per tahun pada tahun 2045. “Selama 20 tahun terakhir, kita seolah-olah tidak bergerak dan terjebak dalam pendekatan teknis dengan solusi instan,” ungkap David saat dihubungi pada Jumat, 13 Maret 2026.

Solusi Instan yang Dimaksud

Solusi instan yang dimaksud David berkaitan dengan ketergantungan pemerintah pada teknologi pengolahan sampah. Salah satu contohnya adalah proyek bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah (refuse-derived fuel/RDF)—pabrik yang memproduksi bahan bakar alternatif dari sampah padat yang telah diproses. Masalahnya, ujar David, teknologi ini hanya mengalihkan emisi metana dari sampah menjadi emisi karbon karena sampah dibakar.

Emisi dari Sampah yang Mencemari Lingkungan

David juga mengungkapkan keprihatinannya mengingat Indonesia sudah memproduksi 56,63 juta ton sampah setiap tahun. Jika dikonversi menjadi emisi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 28 hingga 35 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Sampah tersebut mengeluarkan emisi yang beragam, mulai dari metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) hingga hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), dan logam berat yang merusak lingkungan.

Dampak Buruk Bagi Lingkungan

Pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya mengakibatkan penumpukan sampah di tempat pembuangan, tetapi juga menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran sampah berkontribusi pada perubahan iklim yang berdampak luas, termasuk peningkatan suhu global dan bencana alam yang lebih sering terjadi.

Dalam konteks Indonesia, masalah ini semakin mendesak karena pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang cepat. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah konkret dan terencana untuk mengatasi permasalahan ini, mulai dari edukasi masyarakat hingga inovasi dalam pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Kesimpulan

Dengan meningkatnya volume sampah dan emisi gas rumah kaca, jelas bahwa Indonesia perlu mencari solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah. Ketergantungan pada solusi instan hanya akan memperburuk kondisi yang ada. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik demi masa depan lingkungan yang lebih sehat.

Drop Your Comment

Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.