17 Mar
Enam narapidana dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) berhasil melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Wamena yang terletak di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan. Kejadian tersebut berlangsung pada Selasa, 25 Februari 2026, dan langsung menarik perhatian aparat keamanan setempat.
Kepala Satuan Tugas Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Yusuf Sutejo, menginformasikan bahwa dari total tujuh narapidana yang melarikan diri, dua di antaranya telah berhasil ditangkap kembali. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa aparat keamanan akan terus melakukan upaya pencarian terhadap narapidana yang masih buron,” ujar Yusuf pada Selasa, 17 Maret 2026.
Di antara para narapidana yang melarikan diri terdapat Penias Heluka alias Kopi Tua, yang dikenal sebagai salah satu pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Yahukimo. Selain itu, nama-nama lainnya yang juga kabur adalah Nelis Helika bin Hendrik Heluka, Rio Elopere bin Jani Elopere, Ariel Sonyap alias Simon Sonyap, Segius Asso, Ferly Wesabla alias Ferlin, dan Welinton Kogoya alias Ula.
Polisi telah menangkap kembali Ferly Wesabla dan Welinton Kogoya. Sementara itu, Penias Heluka, yang menjadi buron, menjadi sorotan karena perannya yang signifikan dalam KKB Yahukimo. “Kami akan terus mencari hingga semua pelarian tertangkap kembali,” tegas Yusuf.
Yusuf juga menekankan pentingnya peningkatan sistem pengawasan dan pengamanan di Lapas Kelas IIB Wamena untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. “Kejadian pelarian seperti ini diharapkan dapat diminimalisir, sehingga proses pembinaan narapidana dapat berjalan lebih optimal,” ungkapnya.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigadir Jenderal Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa pihaknya akan menindak tegas setiap pelaku kejahatan sesuai dengan hukum yang berlaku. “Kami berkomitmen untuk mengejar dan memproses setiap pelaku kejahatan, termasuk mereka yang terlibat dalam pelarian ini,” tandas Faizal.
Pelarian narapidana TPNPB-OPM ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, khususnya terkait dengan meningkatnya aktivitas kelompok kriminal bersenjata di Papua. Keberadaan pemimpin KKB yang bebas dapat memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut, yang selama ini telah menjadi fokus perhatian pemerintah.
Oleh karena itu, langkah cepat dari aparat keamanan dalam menangani situasi ini sangat diharapkan. Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada pihak berwenang.
Insiden pelarian ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh lembaga pemasyarakatan dan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Upaya penangkapan terhadap narapidana yang masih buron akan terus dilakukan, dan diharapkan ke depannya pengelola lapas dapat meningkatkan sistem pengamanan agar pelarian tidak terulang kembali.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.