Akses pers Pentagon yang semakin ketat, dampak bagi jurnalis

Pentagon Perketat Akses Pers Meski Ada Putusan Pengadilan

TEMPO.CO, Jakarta – Pentagon kembali memperketat akses bagi jurnalis yang meliput aktivitas militer AS pada hari Senin, beberapa hari setelah pengadilan AS memutuskan bahwa upaya sebelumnya untuk mengubah akses pers adalah tidak konstitusional.

Pihak Pentagon mengumumkan penutupan area pers yang telah ditentukan dan menyatakan bahwa “semua akses jurnalis ke Pentagon akan memerlukan pengawalan oleh personel departemen yang berwenang.”

Juru bicara markas militer, Sean Parnell, menyatakan bahwa perubahan ini dipicu oleh “risiko keamanan”. “Berlaku segera, Koridor Wartawan ditutup,” tulisnya di platform X. Sebagai pengganti, ruang kerja baru akan dibangun di “fasilitas tambahan di luar Pentagon, tetapi masih dalam area Pentagon,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan panjang.

Pentagon Akan Mengajukan Banding atas Putusan Pengadilan

Langkah pembatasan ini merupakan yang terbaru dalam rangkaian tindakan yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump dan pejabat teratasnya terhadap jurnalis, terutama ketika mereka tidak sejalan dengan laporan yang dibuat.

Pada hari Jumat, seorang hakim federal memutuskan bahwa perubahan akses pers yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan pada tahun 2025, yang mencabut akreditasi sejumlah media terkemuka, melanggar konstitusi. Gugatan tersebut diajukan oleh The New York Times, dan pengadilan lebih lanjut memerintahkan departemen untuk mengembalikan credentials kepada wartawan Pentagon dari Times.

Parnell menyatakan bahwa departemen “selalu mematuhi perintah pengadilan” namun akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Ia menambahkan bahwa Pentagon akan menerbitkan kembali credentials namun akan membatasi wartawan hanya di area tertentu.

“Pemegang credential akan tetap memiliki akses ke Pentagon untuk briefing pers yang dijadwalkan, konferensi pers, dan wawancara yang diatur melalui kantor urusan publik,” ujarnya, sambil menyatakan bahwa meskipun Pentagon berkomitmen pada transparansi, mereka juga memprioritaskan keamanan.

Tanggapan Pers terhadap Pembatasan Baru Pentagon

Tindakan terbaru Departemen Pertahanan ini muncul hampir sebulan setelah dimulainya perang antara AS dan Israel melawan Iran, yang bisa dibilang merupakan waktu yang krusial bagi jurnalis pertahanan untuk mendapatkan akses kepada para pejabat tinggi.

“Penutupan Koridor Wartawan dan memaksa akses yang dikawal melemahkan laporan independen di Pentagon pada saat masyarakat membutuhkan informasi yang jelas dan tidak terfilter tentang militer AS,” ujar Presiden National Press Club, Mark Schoeff Jr. dalam sebuah pernyataan.

Asosiasi Pers Pentagon menilai pengumuman tersebut “merupakan pelanggaran yang jelas terhadap huruf dan semangat putusan minggu lalu.”

“Di saat yang sangat kritis ini, kami bertanya mengapa Pentagon memilih untuk membatasi kebebasan pers yang vital untuk menginformasikan semua warga Amerika,” tambah asosiasi tersebut.

Pada tahun 2025, Pentagon mencabut ruang kantor yang didedikasikan untuk delapan outlet media termasuk The New York Times, The Washington Post, CNN, NBC, dan NPR. Tindakan ini diduga dilakukan untuk memberikan ruang bagi outlet yang lebih mendukung Trump.

Selain itu, mereka juga mewajibkan outlet yang tersisa dan jurnalis mereka untuk selalu didampingi oleh pengawal resmi ketika melintasi area terbatas di dalam Pentagon.

Beberapa outlet yang tersisa, termasuk Times, Fox News, Associated Press, dan AFP, menolak untuk menandatangani kebijakan baru dan akibatnya kehilangan credential Pentagon mereka.

Pertimbangan Akhir

Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan kebebasan pers di tengah situasi yang semakin genting. Dengan berkembangnya ketegangan internasional, akses yang tepat dan akurat terhadap informasi militer menjadi semakin penting bagi publik.

Drop Your Comment

Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.