12 Mar
Teheran, Iran – Komandan Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, menegaskan bahwa setiap kapal yang ingin melewati Selat Hormuz harus mendapatkan izin dari pemerintah Iran. Pernyataan ini muncul setelah dua kapal, Express Rome dan Mayuree Naree, berusaha melintas tanpa izin dan kemudian ditangkap.
“Apakah kapal diberi jaminan bahwa mereka dapat melewati Selat Hormuz? Ini harus ditanyakan kepada awak kedua kapal tersebut yang, dengan percaya pada janji-janji kosong, mengabaikan peringatan dan berusaha melewati selat itu,” ungkap Tangsiri melalui akun media sosialnya di X, yang dikutip oleh Anadolu.
Pernyataan ini merujuk pada insiden yang terjadi pada Selasa lalu, di mana dua kapal kargo dari Liberia dan Thailand diserang saat berlayar di Selat Hormuz. Akibat dari insiden ini, tiga awak kapal Thailand dilaporkan masih hilang hingga saat ini.
Ketegangan di kawasan ini meningkat setelah serangan bersama yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari. Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 1.300 jiwa melayang, termasuk mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta lebih dari 150 siswi. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke wilayah Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang memiliki aset militer AS.
Sejak awal Maret, Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak, dengan kapasitas sekitar 20 juta barel per hari dan mengangkut sekitar 20 persen dari perdagangan gas alam cair global. Tindakan tersebut telah menyebabkan lonjakan harga minyak di pasar global.
Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman terhadap Iran dengan konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, jika negara itu terus menempatkan ranjau di Selat Hormuz dan tidak segera memindahkannya.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi perhatian karena ketergantungan pada pasokan energi dari negara-negara Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dapat berimbas pada biaya energi domestik dan inflasi, yang pada akhirnya mempengaruhi perekonomian nasional. Mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan internasional, stabilitas di kawasan tersebut menjadi sangat krusial bagi Indonesia dan negara-negara lain yang bergantung pada pasokan energi dari wilayah ini.
Dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan penegasan dari Iran mengenai izin kapal, dunia internasional harus memberikan perhatian lebih terhadap situasi ini. Keputusan yang diambil oleh negara-negara terkait dapat berdampak signifikan bagi perdagangan global dan stabilitas energi, termasuk bagi Indonesia yang juga merasakan dampaknya.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.