11 Mar
TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Luar Negeri Indonesia bersama dengan Kantor Koordinator Residen PBB mengadakan dialog tingkat tinggi di Jakarta mengenai masa depan kerja sama multilateral, seiring dengan peringatan 80 tahun PBB dan reformasi yang sedang berlangsung.
Lebih dari 120 pemangku kepentingan berkumpul dalam seminar bertajuk “PBB ke-80: Membentuk Masa Depan Multilateral” untuk mendiskusikan cara-cara PBB dapat lebih baik dalam menghadapi tantangan global dan memperkuat kerja sama multilateral.
Delapan dekade setelah didirikan, PBB meluncurkan Inisiatif UN80, sebuah upaya reformasi yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk menciptakan sistem yang lebih efektif dan koheren. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, meninjau ribuan mandat, serta memodernisasi cara kerja PBB dalam bidang perdamaian, pembangunan, bantuan kemanusiaan, dan hak asasi manusia.
Indonesia memainkan peran aktif dalam diskusi mengenai masa depan multilateral, dengan duta besar Tri Tharyat menegaskan komitmen negara ini untuk memperkuat kerja sama internasional di tengah perubahan lanskap global yang dinamis.
“Bagi Indonesia, PBB yang efektif, inklusif, dan sesuai dengan tujuan tetap sangat penting. Bukan karena multilateralisme tidak memiliki batasan, tetapi karena skala dan kompleksitas tantangan saat ini menjadikan pendekatan kolektif semakin diperlukan,” ujarnya.
Koordinator Residen PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menekankan pentingnya kerja sama internasional yang terus berlanjut. “Di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat, PBB tetap menjadi platform penting untuk dialog, kerja sama, dan aksi kolektif. Inisiatif UN80 berfokus pada memastikan bahwa PBB berkembang untuk lebih baik melayani masyarakat di seluruh dunia, dengan memberikan layanan yang lebih efektif, lebih koheren, dan berdampak lebih besar,” jelasnya.
Acara tersebut juga menampilkan diskusi panel yang menghadirkan David McLachlan-Karr, Direktur Regional Asia-Pasifik dari Kantor Koordinasi Pembangunan PBB; Masni Eriza, Direktur Pusat Strategi Kebijakan Multilateral di Kementerian Luar Negeri Indonesia; dan Philips Jusario Vermonte, Dekan Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Islam Internasional Indonesia.
Para panelis membahas bagaimana agenda reformasi UN80 dapat memperkuat kemampuan PBB dalam merespons krisis global, memajukan pembangunan berkelanjutan, dan memberikan hasil yang lebih efektif di tingkat negara. Peserta juga mendiskusikan peran Indonesia dalam mempromosikan kerja sama multilateral serta tantangan yang dihadapi sistem internasional saat beradaptasi dengan dunia yang cepat berubah. Dialog ini merupakan bagian dari konsultasi global yang lebih luas menjelang proses reformasi UN80 yang dijadwalkan selesai pada tahun 2026.
Diskusi yang berlangsung di Jakarta ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk terlibat dalam upaya internasional dalam menciptakan sistem multilateral yang lebih baik. Peringatan 80 tahun PBB menjadi momentum penting untuk mendiskusikan tantangan dan peluang yang dihadapi dunia saat ini, serta bagaimana kolaborasi internasional dapat mengatasi isu-isu tersebut secara lebih efektif.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.