19 Apr
KETUA Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menanggapi isu yang menyebutkan adanya rencana penggabungan antara Partai NasDem dan Partai Gerindra. Hal ini disampaikannya usai acara halalbihalal Forum Pemimpin Redaksi yang digelar di Nasdem Tower, Jakarta, pada Kamis, 16 April 2026.
Dalam pernyataannya, Surya menegaskan bahwa tuduhan mengenai merger tersebut tidaklah benar. “Sudah pastilah tidak ada, itu istilahnya barangkali terlalu cepat menyimpulkan itu saya pikir wajar,” ujarnya, seperti yang dikutip dari laman resmi Fraksi NasDem pada Ahad, 19 April 2026.
Surya kemudian menceritakan pertemuannya dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, yang berlangsung di kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, pada pertengahan Februari 2026. Pertemuan tertutup tersebut membahas banyak hal, termasuk tantangan yang dihadapi Indonesia serta konsolidasi partai-partai pendukung pemerintahan.
“Tapi bukan hanya masalah itu, ada masalah-masalah lain yang juga kami bicarakan. Kami juga berdiskusi tentang tantangan ke depan yang harus dihadapi oleh semua partai koalisi. NasDem berada di posisi yang jelas dalam koalisi tersebut,” tambah Surya.
Surya juga mengungkapkan pandangannya mengenai kritik dalam kehidupan demokrasi saat ini. Ia menilai kritik sebagai bagian penting dalam upaya untuk membangun semangat perbaikan dalam proses berbangsa dan bernegara. Namun, ia menekankan bahwa kritik harus disampaikan dengan cara yang konstruktif dan tidak melampaui batasan agar tetap esensial.
Dalam laporan yang dipublikasikan oleh Majalah Tempo edisi pekan lalu, disebutkan bahwa Prabowo mengusulkan kepada Surya Paloh untuk menggabungkan Partai NasDem dan Partai Gerindra. Usulan ini muncul setelah keduanya bertemu di kediaman Prabowo.
Jika ide merger ini terwujud, gabungan kedua partai diperkirakan akan mengumpulkan hampir 35 juta suara atau sekitar 23 persen dari hasil pemilu 2024. Namun, menurut tiga pejabat tinggi NasDem, Surya tidak merespons positif usulan tersebut karena ingin mempertahankan posisi NasDem dan belum melihat manfaat yang jelas dari penggabungan tersebut.
Wakil Ketua Partai NasDem, Saan Mustopa, juga menanggapi isu tersebut dengan menyatakan keheranannya. Ia menghindar untuk menyebut potensi penggabungan ini sebagai merger atau akuisisi, melainkan menggantinya dengan istilah fusi sebagai terminologi resmi.
“Saya pikir penggabungan dua partai adalah ide yang wajar, mengingat hal ini pernah terjadi sebelumnya pada tahun 1973. Namun, saat ini, gagasan merger antara kedua partai menjadi lebih sulit direalisasikan karena perbedaan filosofi masing-masing partai,” jelas Saan.
Dengan penegasan dari Surya Paloh dan tanggapan dari Saan Mustopa, tampaknya isu mengenai merger antara Partai NasDem dan Partai Gerindra belum akan terwujud dalam waktu dekat. Baik NasDem maupun Gerindra memiliki visi dan misi yang berbeda, sehingga setiap langkah ke depan perlu dipertimbangkan secara matang demi kepentingan bersama.
Proudly powered byWordPress. Theme byWeblizar.